Di sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta, hidup dua saudara kembar identik bernama Aria dan Arka. Mereka lahir bersamaan, tumbuh bersama, dan bahkan memiliki mimpi yang sama: menjelajahi luar angkasa. Sejak kecil, mereka sering duduk di atap rumah sambil menatap bintang-bintang, membayangkan petualangan di antara galaksi.
Pada usia 25 tahun, mimpi itu menjadi kenyataan bagi Arka. Ia diterima sebagai astronot di badan antariksa nasional dan dipilih untuk misi eksplorasi jarak jauh ke planet Proxima Centauri, bintang terdekat dari Matahari. Pesawat luar angkasa yang ia tumpangi dirancang untuk melaju mendekati kecepatan cahaya, hampir 99% dari kecepatan itu, agar perjalanan yang seharusnya memakan ribuan tahun bisa diselesaikan dalam waktu manusiawi.
Aria, yang lebih memilih kehidupan di Bumi, mengantar kakaknya ke landasan peluncuran. "Janji ya, pulang cepat," kata Aria sambil memeluk Arka erat.
Arka tersenyum. "Tentu. Bagiku, ini hanya beberapa tahun saja. Kita akan bertemu lagi seperti biasa."
Pesawat lepas landas. Arka memasuki kapsul tidur kriogenik untuk sebagian besar perjalanan, tapi sistem komunikasi tetap menyala. Mereka bisa saling kirim pesan video, meski dengan penundaan yang semakin lama karena jarak.
Bagi Arka di pesawat, waktu berlalu normal. Ia bangun sesekali untuk memeriksa instrumen, berolahraga, dan merekam pesan untuk Aria. "Hari ini aku melihat nebula yang indah. Kamu harus lihat ini suatu hari nanti!" katanya dalam satu video.
Sementara itu, di Bumi, Aria melanjutkan hidupnya. Ia menikah, memiliki anak, dan menjadi profesor fisika di universitas. Setiap hari, ia menunggu pesan dari Arka. Tahun demi tahun berlalu: 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun...
Teori relativitas khusus Einstein, yang dipelajari Aria di kuliahnya, menjelaskan apa yang terjadi. Saat benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, waktu baginya melambat dibandingkan dengan yang diam. Ini disebut dilatasi waktu. Bagi Arka, perjalanan pulang-pergi mungkin hanya memakan 10 tahun subjektif, tapi di Bumi, puluhan tahun telah berlalu karena efek relativistik itu.
Akhirnya, setelah 40 tahun di Bumi, pesawat Arka mendarat kembali. Aria, kini berusia 65 tahun dengan rambut beruban dan cucu di pangkuannya, bergegas ke tempat pendaratan. Pintu pesawat terbuka. Keluarlah Arka... masih berusia 35 tahun, segar seperti saat berangkat.
" Aria? Kamu... sudah tua?" kata Arka terkejut, matanya berkaca-kaca.
Aria tertawa sambil menangis. "Selamat datang pulang, adikku. Waktu di sini berlalu lebih cepat bagiku. Einstein benar, waktu itu relatif."
Mereka berpelukan lama. Arka belajar tentang keluarga baru Aria, tentang dunia yang telah berubah. Sementara Aria mendengar cerita petualangan Arka di bintang-bintang. Meski waktu telah memisahkan mereka secara fisik, ikatan saudara mereka tetap abadi.
Dan di malam itu, mereka kembali duduk di atap rumah lama, menatap langit. "Lihat," kata Arka, "bintang-bintang itu sama seperti dulu."
"Tapi kita tidak," balas Aria lembut. "Dan itulah keajaiban relativitas."
Cerita ini terinspirasi dari paradoks kembar dalam teori relativitas khusus Albert Einstein, di mana satu kembar yang bepergian mendekati kecepatan cahaya akan mengalami waktu lebih lambat dibandingkan kembar yang tinggal di Bumi.